Book Review | The Game of Love - Ika Vihara

Post a comment

Alwin Eljas Hakkinen, berdarah setengah finlandi, pendiri salah satu gaming company terbaik di dunia, kehilangan kepercayaan terhadap cinta setelah kekasihnya menikah dengan kembarannya. Tidak hanya itu, Alwin harus menyaksikan keduanya menjadi pasangan sehidup semati. Kepergian mereka membuat Alwin harus berurusan dengan Edna Athalia. Atas desakan sang ibu, Alwin menikah dengan Edna. Namun, Alwin lebih dulu memastikan pernikahannya dengan Edna hanya didasari perjanjian yang saling menguntungkan.

Setelah kehilangan kedua orangtua dan saudara kandungnys, Edna semakin paham bahwa keluarga adalah segalanya. Apa pun itu akan dia lakukan demi terus bisa menjadi ibu bagi Mara –keponakannya- dan mengembangkan bakery peninggalan kakaknya. Termasuk menikah dengan laki-laki berhati batu seperti Alwin.

Dalam permainan cinta ini, Edna tidak tahu apakah ada cara untuk melindungi perasaannya. Mungkinkah Edna bisa hidup serumah dengan laki-laki luar biasa tanpa menaruh hatipadanya? bisakah seorang wanita menjalankan peran sebagai istri  tanpa jatuh cinta kepada suaminya?

K I L A S     B A L I K

“Walaupun tanpa cinta, tapi aku menginginkan kesetiaan, komitmen, respek, kerja sama …. “ – hal. 43

Edna hanya memiliki Mara –keponakannya- sebagai keluarga satu-satunya, setelah kakaknya Elma juga menyusul kedua orangtuanya. Walaupun demikian dia tetap bersyukur karena keluarga yang tak lain adalah kakek-neneknya Mara juga menganggapnya keluarga, setiap lebaran atau seminggu sekali Edna selalu berkunjung bersama Mara dan mereka juga Edna sudah menganggap seperti keluarga sendiri.

Di saat keluarga mertua kakaknya masih berduka pasca kecelakaan yang menimpa kakak dan kakak iparnya, Edna dengan mengorbankan masa mudanya sukarela menawarkan diri untuk merawat keponakannya, Mara yang kala itu baru berusia tiga bulan dan sudah dianggap seperti anak kandungnya sendiri hingga setelah tiga tahun lamanya tiba-tiba nenek Mara ingin menjodohkan Edna dengan Alwin yang tak lain adalah saudara kembar Rafka –kakak iparnya- dengan jaminan Mara akan selamanya  bersama Edna. Jika tidak maka Mara akan diambil alih sesuai wasiat dari kedua orangtua kandungnya.

Alwin memilih pergi dari keluarganya setelah pengkhianatan yang dilakukan keluarganya sediri. Ia merasa di rumahnya sendiri tidak ada yang membelanya, saat kakak kembarnya Rafka merebut pacarnya dan menikahinya sekaligus. semuanya bermuara pada kakak kembarnya, tapi semenjak Rafka meninggal, seakan tanggung jawab Rafka menjadi haknya –menurut keluarganya- termasuk menyuruhnya menikah dengan adik dari mantan pacar yang sudah mengkhianatinya dulu dengan jaminan Alwin tidak perlu memikirkan semua beban yang ditujukan kepadanya, termasuk meneruskan perusahaan keluarga.

Berbeda dengan Alwin, Edna walaupun pernikahannya hanya sementara, Edna tetap akan menganggap pernikahannya dengan Alwin sungguhan, melakukan segala aktifitas suami-istri pada umumnya walaupun tanpa cinta demi sebuah keluarga utuh untuk Mara anaknya.

B O O K     R E V I E W

Seberapa penting cinta dan balasan perasaan cintamu dari pasanganmu sendiri?? (boleh share di kolom komentar yaa J)

Melalui bukunya kak Ika ini, The Game of Love memberikan kita gambaran seperti apa hubungan dalam sebuah rumah tangga yang ‘mungkin’ banyak diluar sana yang juga mengalaminya seperti halnya Edna dan Alwin.

“Lalu … siapa yang mencintaiku? Kalau aku sibuk mencintai kalian, siapa yang akan mencintaiku?” – hal. 241

Mungkin bagi sebagian orang kalimat I Love You atau sebangsanya tidak penting, cukup dengan kesetiaan, material yang cukup dan kebahagiaan dalam sebuah hubungan sudah cukup. Tapi ada sebagian orang hal itu sangat penting seperti halnya Edna. Bukan karena Edna ‘bucin’. Bukan. Cinta bagi Edna adalah satu hal yang penting dalam sebuah hubungan karena dengan adanya kalimat sakral tersebut Edna bisa memutuskan akan seperti apa kelanjutan dan nasib pernikahan mereka. Menilik dari awal pernikahan mereka hanya sekadar mencari keuntungan satu sama lain. Perjanjian pranikah mereka yang berbeda dari yang biasanya. Edna akan bersama dengan Mara selamanya, Alwin bebas dari tuntutan tanggung jawab perusahaan.

Membaca kisah Edna ini sebenarnya sedikit membuatku kembali berpikir juga, sebenarnya seberapa penting sih kalimat pengungkapan cinta itu sendiri dalam sebuah hubungan? Karena yang selama ini aku tanamkan di dalam kepalaku adalah bahwa cinta itu bukan segala-segalanya, cukup dengan kesetiaan saja, tapi setelah aku baca buku ini hmmm, membuat aku kembali berpikir dan bertanya-tanya. Walaupun demikian aku jadi maklum aja sih dengan sosok Edna ini yang sangat mengutamakan ungkapan balasan perasaan dari Alwin, apalagi dengan Alwin yang dulunya sangat mencintai sang kakak, ya wajar-wajar aja. Karena siapa sih yang nggak was-was punya suami tapi hatinya belum bisa move on dengan masa lalunya apalagi kakak kandungnya sendiri.

Dengan menggunakan alur maju dan sudut pandang orang ketiga dari setiap sisi tokoh utamanya, membuatku bisa memahami dengan baik bagaimana  perasaan Edna dan Alwin dari awal cerita dan perkembangan karakternya mereka hingga akhir. Balutan romance dan gabungan STEM (science, Technology, Engineering, and Mathematics) seperti buku-buku kak Ika sebelumnya selalu membuatku betah dan juga menambah wawasanku tentang pekerjaan-pekerjaan yang WOW dengan penjelasan yang sangat detail tapi tidak monoton justru sebaliknya semakin dibuat tertarik ingin tahu lebih lanjut lagi.

Untuk karakter tokohnya sendiri, aku suka sama pembawaannya Edna yang luar biasa. sosok perempuan yang kuat, tangguh, mandiri, seorang ibu yang sangat mencintai anaknya walaupun bukan darah dagingnya sendiri. Di saat ia sedang mengemban kuliahnya tapi juga disatu sisi mengurus semua keperluan Mara. Demi Mara ia rela mengesampingkan kebahagiaannya sendiri. Edna seakan diajak bermain judi dengan nasib pernikahannya sendiri. Mungkin di jaman sekarang agak sulit menemukan sosok yang serupa dengan tanggung jawab yang berjibun itu, jujur aku ngebayanginnya berat, hahahaha. Dan aku setuju sama kalimat-kalimat kak Ika di Note From The Author yang asli belum apa-apa uda dibuat terharu duluan sama kata pengantar buku ini.

“Hampir semua wanita bisa melahirkan seorang anak, tetapi beberapa di antara mereka tidak layak disebut ibu.” – hal. v

Untuk sosok Alwin sendiri, siapa sih yang nggak baper diperlakukan dengan sebegitu perhatiannya padahal Alwinnya uda menegaskan di awal jangan jatuh cinta, tapi perasaan siapa yang bisa mengatur kan. Tanpa kita sadari dia datang dengan sendirinya. Aku yang baca kisah mereka aja baper sendiri. Berbeda dengan saudara kembarnya Rafka, Alwin adalah sosok yang ingin didengar, tidak suka di atur, bahkan ia tahu apa yang terbaik buat orang lain. Jadi wajar saja saat ditawarkan untuk menikah ia setuju karena ada satu poin penting yang menguntungkan dari pernikahan tersebut. Dengan pengalamannya di masa lalu di khianati sama orang-orang yang dia percaya membuatnya sulit untuk memulai membuka kembali hatinya, seakan hatinya sudah ditutup rapat tidak mengijinkan siapapun untk masuk. Alwin lebih menikmati hidupnya bersama dengan computer dan game-game hasil dari rancangannya bersama para sahabat. 

Mara dengan gaya khas anak-anak, kak Ika berhasil membuatku gemas dengan tingkah lucu dan cara bicaranya yang bikin senyum-senyum sendiri. Seakan peran Mara di buku ini pendukung utama jalannya cerita yang semakin membuat seru dan ingin segera menamtkannya segera.

Dan masih ada beberapa karakter lainnya yang jadi peran pendukung di dalam cerita dengan takaran yang pas nggak berlebihan.

Untuk konfliknya sendiri tergolong ringan, tidak membuatku perlu berpikir keras. Seperti endingnya yang bisa dengan mudah ditebak. Karena buku ini layak dibaca bukan karena endingnya, tapi proses dan cara kak Ika mengeksekusi jalan ceritanya menjadi begitu apik dan penuh pemahanaman-pemahaman yang baru dan yang menjadi poin utama dalam buku ini dan sangat aku rekomendasikan buat kalian baca juga.

Membaca the game of love ini banyak sekali hal-hal positif yang bisa kita jadikan pembelajaran dalam menjalankan hidup. Tentang hubungan dalam sebuah pernikahan. Tentang pasangan. Seperti halnya dalam mencari pasangan. Seperti kisahnya Socrates & Plato tentang ladang jagungnya. Yang intinya jangan terlalu banyak memilih dan menetapkan kriteria yang terlalu sulit karena siapa tahu yang datang pertama kali itulah yang terbaik untuk kita. Tentang perjuangan seorang ibu dan kasih sayang mereka kepada seorang anak. Tentang cinta dan masih banyak lagi pesan-pesan kehidupan yang disampaikan kak Ika melalui kisah Edna dan Alwin ini.

Overall, aku sangat merekomendasikan buku ini buat kamu yang sedang kebingungan dengan seberapa penting sebuah balasan perasaan dalam satu hubungan terutama dalam pernikahan dan terutama buat penyuka romance sejati J


Judul Buku : The Game of Love

Penulis : Ika Vihara

Penyunting : Afrianty P. Pardede

Penerbit : Elex Media Komputindo

Tahun Terbit : 2019

E-ISBN : 978-602-04-9994-9

Baca via Gramedia Digital


R AT I N G

4.5/5


Related Posts

Post a comment

Follow by Email