Review | Quit - Pendidikan dan Impian by @Backpackertampan

Review Buku Quit Backpackertampan

Berhenti Untuk Kembali Berlari…

“Pandhu mau berhenti kuliah, Pa.”
Papa seketika terdiam. “Kamu itu selalu seperti ini!
Hanya mau melakukan hal yang kamu suka.”
Papa benar. Namun, pilihan yang gue buat itu
nggak pernah gue sesali hingga hari ini. 


***
Sesaat setelah berhenti kuliah, semua terasa menakutkan.
Gue takut nggak dapat pekerjaan, nggak bisa survive,
nggak bisa makan. Takut gagal.

Namun, seandainya gue nggak berhenti kuliah, gue nggak akan ambil kesempatan kerja di sebuah perusahaan wedding film di Bali. Lalu, kalau gue nggak berhenti dari perusahaan wedding film itu, gue nggak akan bekerja sebagai editor video Christian LeBlanc-youtuber yang sering gue tonton videonya.

Setelah berhenti bekerja dengan Christian LeBlanc pun, gue mendapat kesempatan bekerja sama dengan Kementerian Pariwisata untuk keliling Indonesia, dibayar pula. Ini definisi ‘the best job in the world’ yang sejak dulu hanya jadi khayalan babu gue. Travelling yang bukan menghabiskan uang, melainkan menghasilkan uang. Dan, di sinilah gue sekarang, menjadi travel vlogger, menjelajah Indonesia dan belahan dunia lain.

Berhenti ternyata nggak selamanya buruk.
Berhenti kadang cara mempersiapkan diri untuk kembali berlari.

Kilas Balik Cerita

“’Berhenti.’ Mungkin itu adalah satu kata pendek yang tepat untuk menggambarkan perjalanan kairer gue tiga tahun terakhir. Gue banyak berhenti.
Yang bikin gue belajar, bukan berhenti karena gagal, melainkan berhenti untuk berhasil.” – hlm. 160
Pandhu dulunya hanyalah seorang anak yang mematuhi dan menuruti semua kemauan orang tua (terutama sang Ayah) pada umumnya yang ingin anaknya sukses, kuliah di jurusan yang bagus yang nantinya jika lulus bisa kerja di perusahaan besar dengan gaji dan bonus yang besar pula.

Tertekan dengan rutinitas yang itu-itu saja, dengan alasan sedang libur kuliah, Pandhu melakukan perjalanan ke Filiphina bersama temannya. Dan di sana dengan orang-orang baru yang dikenalnya dengan cerita-cerita mereka membuatnya semakin yakin untuk mengambil satu keputusan yang mungkin ntah akan membuatnya gagal atau malah sebaliknya. Ia memilih untuk berhenti kuliah.
“Buat gue, saat kita melakukan pekerjaan yang kita suka, kita akan melakukannya sepenuh hati, dan hasil pun akan mengikuti. Sebaliknya, kalau kita nggak suka, hasilnya akan setengah-setengah.” – hlm. 15
Mencoba peruntungan Pandhu merantau ke Bali dengan bekerja menjadi editor video kawinan, awalnya ia sangat bersemangat karena memiliki rutinitas dan aktifitas yang ia sukai, tapi semakin perlahan pekerjaan sebagai editor video membuatnya jenuh walaupun ia mendapatkan gaji yang besar tidak membuatnya puas. 

Hingga akhirnya ia memberanikan diri untuk melamar sebagai editor videonya Christian Leblanc seorang youtuber yang sedang menetap di Bali. Dan bersama Christian Pandhu mulai belajar banyak hal dan tentu saja mulai mengenal banyak teman baru bahkan teman-teman bule yang ternyata sama-sama memiliki hobi sebagai travelling yang ternyata mereka tidak hanyak melakukan hobi travelling, tapi dari hobi mereka juga dibayar. 

Semakin banyak mengenal beragam kegiatan dan seluk-beluk tentang travelling dari teman-teman barunya membuat sesuatu yang selama ini menjadi impiannya kembali muncul. 

Kehidupan Pandhu sudah sukses? Tentu saja. Pandhu sudah bisa membantu keluarganya, mengirimi mereka uang, membantu membiayai pendidikan adik-adiknya, dan bahkan ia bisa bangga memperlihatkan kepada sang Ayah bahwa keputusannya dulu tidaklah sia-sia. Tapi masih ada yang mengganggu jiwa petualangnya Pandhu yang belum terpenuhi.

Selama bekerja dengan Christian, Pandhu mendapat beberapa tawaran untuk melakukan perjalanan, tapi tidak semuanya bisa ia terima karena Pandhu masih terikat kerja dengan Chris. 

Meminta saran dari teman-temannya, akhirnya saat ia sedang melakukan perjalanan ke India ia sudah memutuskan untuk berhenti.
“Kalau kesuksesan itu bukan diukur dari materi, bukan dari pekerjaan dan gaji, melainkan dari seberapa besar kita bahagia akan hidup yang kita jalani.” – hlm. 25

Review

“Travelling bukan untuk menghabiskan uang, tapi sebaliknya. Dan yang terpenting, untuk bisa terus berkarya dan menginspirasi banyak orang.” – hlm. 159
Siapa sih yang tidak tergiur melakukan perjalanan kemana pun, menjelajahi tiap-tiap pelosok daerah atau mungkin dunia melihat keindahan alam tidak perlu menghabiskan uang, tapi malah sebaliknya, menghasilkan uang? 

Ya satu sosok yang dipanggil Pandhu oleh keluarganya, yang dipanggil Tampan oleh Christian Leblanc, dan yang dipanggil Tamps oleh sahabat bulenya Cam & Kels. 

Yapp Bang Tamps (aku izin ikutan manggil Bang Tamps yaa Bang, biar berasa bule lokal yang nyasar, hahahha) yang aku yakin berhasil meracuni setiap pembaca buku Quit untuk melakukan hal yang serupa mungkin, atau melakukan sesuatu yang kita sukai bukan karena sebuah kewajiban atau tuntutan tapi karena kita menyukainya.

Membaca buku Quit ini seperti aku sedang mendengar Bang Tamps bercerita tentang kisah hidup dan kerja keras serta petualangnya selama memilih dan memutuskan untuk berhenti kuliah. 

Bukan pilihan mudah memang. Seseorang harus punya mental yang kuat dan berani tentu saja. Dan keyakinan dan keteguhan Bang Tamps patut di apresiasi. 

Diceritakan dari sudut pandang Bang Tamps sendiri, memudahkan kita sebagai pembaca memahami dengan baik, di balik pilihan dan keputusan besar yang di alami Bang Tamps. Apa dan kenapa Bang Tamps memilih berhenti dan terus berhenti dari sesuatu yang sedang ia kerjakan misalnya. Sampai akhirnya ia menjadi seperti sekarang ini. dan mungkin saja Bang Tamps masih terus berhenti dalam hidupnya demi mencapai apa yang diinginkan dalam diri dan hidupnya.

Mungkin bagi sebagian orang, dan tentu saja aku juga bahkan sempat terbersit, seberapa tidak bersyukurnya Bang Tamps, di saat ia mendapat pekerjaan yang dengan gaji besar malah memilih berhenti yang bahkan belum jelas arahnya, tapi dengan sifat keras kepalanya, Bang Tamps bisa membuktikan kepada orang-orang bahwa ia yang tanpa gelar sarjananya bisa sukses. 

Dan bukan berhenti karena tidak mensyukuri apa yang sudah ada dalam hidupnya, tapi Bang Tamps berhenti karena ia sedang mencari apa yang dinginkan dirinya. 

Karena dia ingin melakukan sebuah pekerjaan yang ia sukai bukan karena rutinitas dan paksaan. Bukankah kebahagiaan dan keberkahan akan datang dengan sendirinya jika melakukan pekerjaan dengan sepenuh hati bukan setengah-setengah.

Dimulai dari tahun 2016 ia mulai merasa jenuh dengan aktifitas kuliahnya, lalu berlanjut berlibur ke Filiphina pada tahun 2017, berhenti kuliah, melamar kerja dan merantau ke Bali, mengenal banyak teman-teman baru dari Instagram yang mempunyai hobi sama, bahkan idolanya. 

Belum cukup puas dengan apa yang diperoleh, pada tahun 2018 Bang Tamps memilih bekerja sebagai personal video editor Christian Lablanc, pertama kalinya mendapat tawaran bekerja sama dengan kementerian pariwisata, dan merasa hidupnya mulai berputar di tempat sedangkan teman-teman yang dikenalnya semua melakukan pekerjaan sekaligus hobi yang mengasyikkan. 

Pada tahun 2019 saat sedang melakukan perjalanan ke India Negara impiannya, Bang Tamps memilih berhenti dari pekerjaan yang mengikatnya. 

Apakah ia menyesal memilih berhenti kuliah, memilih berhenti dari Christian? Tentu saja tidak, karena bagi Bang Tamps, berhenti dalam hidupnya bukan berarti tidak bisa berjuang lagi, tapi sebaliknya. Dan berkat ia berhenti, Bang Tamps bisa sehebat sekarang, melakukan hobinya dan bonusnya ia mendapat dibayar.
“Berhenti ternyata nggak selamanya buruk.
Berhenti kadang cara mempersiapkan diri untuk kembali berlari.”
Jujur baru Bang Tamps dan kisahnya yang mempertemukanku dengan sesuatu dengan kata ‘berhenti’ tapi bisa memperoleh sesuatu yang besar dalam hidup. 

Dan aku jadi penasaran sama buku pertamanya Bang Tamps yang terbit tahun 2016 yang katanya terinspirasi dari taman Methab Bagh di Taj mahal dan juga yang menjadi awal dari perjalanan sosial medianya. Semoga suatu hari bisa membacanya juga.

Di buku ini juga Bang Tamps tentu saja juga bercerita tentang orang-orang yang berada di balik kesuksesannya, yang mendorong serta menginspirasinya hingga menjadikannya seperti sekarang. 

Asal mula bagaimana Bang Tamps bisa mengenal dan berkenalan serta menjalin hubungan persahabatan dengan orang-orang hebat seperti mereka. 

Tidak hanya dari dalam negeri, bahkan dari luar negeri pun lingkungan pertemanan Bang Tamps  dapat. 

Berawal kedekatannya dengan Harival Zayuka (@harivalzayuka) dan Cece (aku nggak nemu akun IG nya, kalau ada yang tau akunnya boleh share yaa) yang dipanggil emak sama Bang Tamps, dan dari merekalah pertemanan dengan teman-teman barunya berlanjut dan membuat aplikasi Instagram memberikan banyak keberkahan dan kenangan yang nggak mungkin dilupakan dalam perjalanan karier seorang @backpackertampan . 

Ali Olfat (Ali_Olfat), yang berkatnya membuat Bang Tamps semakin bersemangat untuk belajar lebih giat tentang fotografi. 

Ada juga Christian Leblanc (@lostleblanc) yang juga seorang travel vlogger, yang sekarang menjadi mantan bosnya tapi menjalin hubungan baik bahkan mereka kerap melakukan travelling bersama. Dan berkat Chris, Bang Tamps bisa mengenal sepasang suami istri bahkan mereka bersahabat, Cam & Kels (@camandkels). 

Wahyu Mahendra (@iw.wm) fotografer favorit Bang Tamps yang bahkan menjadi idolanya. 

Dari pertemanan Bang Tamps tentu saja kita bisa menyimpulkan bahwa, teman tidak hanya untuk mengisi hari-hari kita untuk kesenangan belaka, tapi juga bisa mendatangkan kesuksesan yang lain, jika mau belajar dari mereka. 

Dan jangan pernah ada kata gengsi saat berteman dengan orang yang lebih sukses dari kita. Tapi belajarlah dan ‘ambil’ lah ilmu dari mereka sebanyak-banyaknya.
“Kalau kamu terus bergerak maju, semesta akan berpihak kepadamu.” – hlm. 128
Di buku Quit ini juga kita akan disuguhi dengan berbagai macam keindahan tempat yang menjadi destinasi travelling-nya Bang Tamps bersama teman-teman maupun pekerjaannya. 

Dari mulai Kalimantan dengan keindahan alamnya serta kita akan dibawa untuk menelusuri perjalanan menuju ke habitat asli sekawanan monyet di pedalaman, Orangutan Foundation Internasional Camp Leakey

Aceh dan masjid megahnya, Baiturrahman juga menjadi salah satu tempat yang dijelajahi oleh Bang Tamps, dan aku pribadi yang menetap di aceh tentu saja setuju dengan apa yang di gambarkan oleh Bang Tamps tentang Aceh di bukunya. Terutama saat kita memasuki masjid kebanggaan orang Aceh tersebut. 

Walaupun berkali-kali sudah aku mengunjunginya, tetap saja aku merasakan hal yang sama keindahan yang sulit sekali diucapkan sangking terharunya. 

Dan ada Flores dengan keindahan asri yang belum terjamah oleh bangunan-bangunan bertingkat, terutama danau Kelimutu dan masih ada daerah-daerah lainnya di Flores yang dikunjungi Bang Tamps yang membuat aku pribadi ingin merasakan apa yang dirasakan Bang Tamps saat berkunjung ke sana. 

Dan yang terakhir ada India. Bang Tamps benar-benar memberikan perhatian lebih ke Negara satu ini. Bahkan Taj mahal menjadi salah satu impiannya setelah 4 tahun terakhir ia gagal.

Dan cara Bang Tamps menggambarkan tempat-tempat yang menjadi latar ceritanya tidak hanya sekadar riset belaka, tapi memang Bang Tamps sendiri sudah mengunjunginya dan aku bisa dengan mudah membayangkan seperti apa keindahan yang dipaparkan Bang Tamps dalam buku ini. 

Bahkan Bali yang sekarang menjadi tempat tinggalnya Bang Tamps tak ketinggalan ia jabarkan tempat-tempat yang bahkan belum banyak orang kunjungi dan di eksplor. Dan sepertinya buku Quit ini bisa menjadi buku panduan untuk siapapun kalian yang ingin melakukan travelling. Apalagi dengan didukung foto/gambar disetiap babnya yang berasal dari postingan instagramnya Bang Tamps.

Berawal dari sebuah mimpi dan impiannya untuk bisa mengunjungi salah satu keindahan yang di miliki oleh India, masjid Taj Mahal. Keyakinan dan tekad setelah 4 tahun terakhir ia diusir dari antrian tiket karena tidak punya uang untuk masuk, tapi di tahun 2019 ia berhasil.

Dan yang paling penting, yang membuat aku salut dan respek dengan sosok Bang Tamps ini dari buku Quit adalah seberapa pun sulit dan galaunya Bang Tamps dalam memutuskan sesuatu pasti ia akan melibatkan keluarganya, terutama orang tuanya. 

Bahkan dari pertama kalinya Bang Tamps ingin berhenti kuliah, walaupun sang ayah awalnya tidak menyetujui. Tapi bukankah ridha Tuhan terletak pada ridha kedua orang tua kita. Sesukses apapun, keluarga tetap nomor satu.

Bagi Bang Tamps, travelling membuatnya selalu hidup, punya pengalaman baru, petualangan baru, dan selalu membawa pulang cerita baru. Juga betapa sukanya ia berbagi cerita kepada banyak orang lewat foto, video, dan tulisan yang ia share di media sosial.

Overall, aku dibuat jatuh cinta dengan untaian kata-kata dan kalimat yang dituangkan Bang Tamps dalam buku ini. 

Aku dibuat hanyut dengan kisahnya yang benar-benar sangat membangun semangat orang siapapun yang membaca buku ini yang mungkin akan jatuh cinta dengan travelling dan ingin menjadi seperti sosok backpackertampan. 

Dan dari buku ini pun , Bang Tamps menekankan bahwa orang bisa sukses karena keputusan gila yang berani di ambil dan menjadi pilihan bagi seseorang. 
“Sesuatu yang butuh perjuangan akan menagarah pada tujuan yang mengesankan.” – hlm. 63
“Pekerjaan dan uang bukan segalanya. Namun, pengalaman adalah pelajaran hidup yang sebenarnya." – hlm. 88

Judul Buku : Quit
Penulis : @backpackertampan
Editor : Ry Azzura
Penerbit : Gagasmedia
Cetakan Pertama, 2020
Jumlah Halaman : viii + 164 hlm
ISBN : 978-979-780-953-9


R A T I N G
4.8 Star 

*kurangnya di kover aja sihh ini. Saran, maunya teman2 Bang Tamps yang di kover jangan ketinggalan di belakang, bukankah Bang Tamps dan teman2 nya selalu berbarengan (?)

Btw, sedang berlangsung giveaway buku gratis QUIT di akun IG ku,
Cuuss ikutan yaa, langsung saja klik link berikut @pidaalandrian

Related Posts

15 comments

  1. Wah terimakaaih kak atas review bukunya yang menarik dan sangat membantu kita untuk lebih memahami bu Quit. Dan tentunya membuat buku Quit semakin menarik untuk dibaca. Teteo semangat kak!!!<3

    Ig: Wzdy.aa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama... Semoga berkenan dgn review nya yaa..
      and good luck yaa ;)

      Delete
  2. Reviewnya racun banget kak, baca review buku ini bikin keinginanku untuk bisa pergi traveling ke luar negeri semakin menggebu-gebu. Buku ini menginspirasi banget kak^^

    Ig : @dev.reads

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaha
      Racunnya halal iniii nggak papa :D
      Yepp bangett2 pokoknya, wajib punya..

      Good luck yaa ;)

      Delete
  3. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  4. Astaga, dari review nya saja sudah menarik apalagi kalau membaca bukunya langsung. Buku ini sangat pas untukku yang gundah akan impian dan memberikan inspirasi, semangat, dan motivasi yang dikemas dalam bentuk yang ringkas. Aku benar - benar ga sabar menantikan buku ini dan segera membacanya.

    Tetap semangat buat review novel lain lg kakak 💪🏻💪🏻💪🏻

    Ig : arlae7

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga bisa segera berjodoh sama buk Quit ini yaa..
      Good luck..

      Siap, makasihh support nya ;)

      Delete
  5. Woah, jadi tertarik buat baca buku ini 😍 jadi berasa baca novel inspirasi dari yang aku tangkap. Buku ini pas banget buat dibaca para anak muda yang lagi galau mau ngambil jurusan apa pas kuliah dan sedang galau karena bingung mau menjadi apa (termasuk aku). Hehe. Tapi aku setuju sih dari apa yang dibilang Bang Tamps,

    "Berhenti ternyata nggak selamanya buruk.
    Berhenti kadang cara mempersiapkan diri untuk kembali berlari."


    Ig : ohagnes_

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yepp bener bangett.
      Terutama saat kita telah memilih, jangan menyerah karena pilihan kita itu sendiri. Tapi terus berjuang jangan menyerah..

      Nggaj hanya anak muda, semua kalangan ini buku cocok kayaknya, hehehe

      Delete
  6. Rating 4.8 ? Waaaaah pasti keren banget sih ini bukunyaaaaaa. Aku selalu suka buku-buku yang menyimpan untaian-untaian kata penuh makna, dan kak pida bilang buku ini termasuk, wah aku makin mupeng kaaaaan. Ditambah beberapa petunjuk destinasi wisata yang recommended indahnya, jadi pengen kesana. Tahan tahan, setelah pandemik berakhir semoga aku bisa jalan-jalan. Sementara aku akan berjalan-jalan lewat pikiran. Ibarat kata "meski ragaku di rumah saja, pikiranku berkelana lewat jendela dunia"

    Ig : oktavianindyah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yepp bener bangett.
      Sebagus itu emang ini buku <3

      Asiiikkk, aku suka sama ibarat katanya,
      hahahahah

      Delete
  7. Berhenti untuk kembali berlari

    ReplyDelete
  8. Saya juga suka travelling dan sempat berfikir utk berhenti kerja kantoran demi mengejar impian keliling Indo, tetapi pas liat mukanya Ibu yg ga ngebolehin anaknya pergi jauh, akhirnya impian itu pupus :(
    Salut dgn mereka yg berani mengambil keputusan seperti itu :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yeepp bener bangett,
      Utk mencapai apa yang kita inginkan butuh pengorbanan yg juga sama2 besar :)

      Delete

Post a comment

Follow by Email