Book Review | Take Off My Red Shoes - Nay Sharaya

Post a Comment
Konten [Tampil]
Judul Buku : Take Off My Red Shoes
Penulis : Nay Sharaya
Editor : Anin Patrajuangga
Desainer Cover & Ilustrator : Dyndha & Lisa FR
Penerbit : Grasindo
Cetakan : Pertama, Juni 2015
Jumlah Halaman : 240 hlm
ISBN : 978-602-375-0580

Sinopsis :

Atha

Aku hanyalah seorang gadis yang terlalu lama memendam kesunyian. Hanya dua hal yang paling kuinginkan dalam hidupku. Mendapat tempat yang sama seperti Alia, saudara kembarku. Dan mendapat perhatian dari Ares, kakakku yang sempurna. Aku tak pernah ingin menyingkirkan siapa pun.

Alia
Aku memiliki semuanya. Memiliki semua yang tak dimiliki Atha. Mama dan Ares menyayangiku lebih dari segalanya. Tapi, ada seseorang. Dia satu-satunya orang yang selalu berada di samping Atha. Apakah salah jika aku ingin memilikinya juga?

Ares
Aku menyayangi kedua adikku dengan caraku sendiri. Dengan cara yang salah. Saat aku menyadarinya, semuanya sudah terlambat. Salah satu dari mereka menempuh jalannya sendiri dan akhirnya tersesat.

Kegan
Ada seseorang yang mengacaukan pikiranku. Seorang gadis bersepatu merah yang aneh. Kau tak akan pernah tahu apa yang ada dalam pikirannya. Tapi yang kutahu, sejak awal mengenalnya, matanya tak pernah berhenti menatap Ares, kakak lelakinya yang sekaligus adalah sahabatku sendiri.

Kilas Balik Take Off My Red Shoes

"Dua takdir yang tak pernah sama"

Natasha dan Athalia adalah dua anak kembar yang sudah lama menetap di sebuah panti asuhan. Mereka kembar, tapi memiliki sifat yang saling bertolak- belakang. Di suatu hari, datang sebuah keluarga yang tertarik untuk mengadopsi Alia saja, namun ntah kenapa, tiba-tiba Atha pun diikutsertakan untuk di adopsi oleh keluarga tersebut. Tanpa tahu alasan -kenapa- yang sebenarnya.

"Buku dongeng ini untuk Natasha yang suka membaca. Kalau sepatu cantik ini untuk Athalia yang cantik seperti Putri." (hlm. 2)

Orang lain jika melihat warna merah mungkin akan biasa-biasa saja. Tapi berbeda dengan Natasha atau yang sering dipanggil Atha. Sejak menerima hadiah masing-masing dari Ibu panti di hari ulang tahun, ntah kenapa Atha mulai merasa dirinya juga menginginkan sepatu merah yang cantik yang dimiliki oleh Alia, saudara kembarnya. Sejak saat itu setiap melihat sepatu berwarna merah, Atha merasa dirinya mulai terobsesi untuk memiliki atau bergabung dengan sesuatu yang pasti akan memakai sepatu cantik berwarna merah. Tim Cheerleaders di sekolahnya. Bagi Atha, warna merah itu selalu membawa keberuntungan. Seperti Alia semenjak memakai hadiah sepatu merahnya, ia selalu dihinggapi keberuntungan. Orang tua serta kakak angkat yang perhatian dan selalu memenuhi semua kebutuhan-kebutuhannya.

"Jangan mendekat. Tetaplah di sana dan jangan pernah berharap lebihi." 
(hlm. 18)

Walaupun sudah berada di tempat yang menganggapnya adalah bagian dari keluarga, namun hal itu tidak mampu untuk menutupi kesedihan dan harapan seorang anak terhadap keluarga yang juga memperhatikannya, memberi kasih sayang seperti yang di dapatkan oleh saudara kembarnya, Alia. Atha hanya bisa berharap, karena bagi keluarga angkatnya Natasha adalah seorang anak yang berkelakuan aneh, yang bisa membahagiakan orang-orang di sekitarnya. Apalagi semenjak kejadian insiden yang memupuskan impian dan bakat yang dimiliki oleh Alia, mulai saat itu semuanya perlahan mulai tampak semakin berubah dan keluarga terutama mama dan kakak angkatnya Ares semakin menjauhi dirinya.

"Sejak saat itu, Atha mulai melihat sepatu dan warnanya yang mengagumkan itu sebagai sesuatu yang harus ia miliki. Harus selalu ia miliki. Kalau bukan sekarang, mungkin suatu hari nanti." (hlm. 2)

Obsesi untuk selalu bisa memiliki sepatu berwarna merah itu tidak pernah hilang dari pikirannya. Apalagi saat pandangan Atha terpaku pada tim Cheerleader sekolah yang sedang latihan dilapangan dengan memakai sepatu merah dan pakaian yang juga berwarna cerah. Sejak saat itulah Atha mulai bertekad untuk bisa lolos di tim cheers sekolahnya. Atha berlatih sangat keras. Atha sadar kalau tubuhnya sangat kaku tidak seperti Alia yang memang mempunyai bakat di bidang Balet. Namun ia tak menyerah, demi sepatu merah yang ingin dimilikinya, Atha rela bekerja keras agar bisa lolos. Bahkan Kegan, yang pertemanan mereka hanya di penuhi dengan saling ejek pun membantunya dan turut andil dalam kerja kerasnya untuk masuk tim cheers.

Banyak kejadian-kejadian yang terjadi di saat penyeleksian anggota tim cheers yang tidak di sadari oleh Atha. Atau Atha yang ingin melupakan semua kejadian-kejadian itu?

Bahkan saat ia dinyatakan lolos seleksi pun, banyak kejadian-kejadian yang tidak di sadari oleh Atha. Banyak orang menyalahkan atas kejadian yang terjadi, namun Atha dengan keras membantah bahwa ia tidak melakukan apapun. Hingga akhirnya keluarganya menyerah dan memutuskan untuk mengirim Atha ke tempat adik bungsu papanya untuk menjalani pengobatan.

Take Off My Red Shoes - Nay Sharaya

Dari awal membaca sinopsinya saja sudah membuat saya tertarik untuk segera mencari tahu seperti apa kisah yang terjadi antara Atha, Alia, Aress dan Kegan. Dari ulasan singkat mereka itulah yang membuat saya penasaran, karena ada kesedihan, penyesalan, dan rasa ingin tahu yang besar dari Kegan. Namun, setelah menuntaskan membacanya, saya jadi paham apa yang sebenarnya terjadi dengan mereka berempat.

Take Off My Red Shoes ini menceritakan kembali dari sebuah dongeng Sepatu Merah karyanya Christian Andersen, dan jujur saya belum pernah mendengarnya. hehehe.. Yang saya pernah dengar itu tentang si kerudung merah. Tapi jangan kecewa dan penasaran, karena di dalam buku ini, ada sedikit di ceritakan kembali seperti apa kisah sepatu merah yang sebenarnya. Kisah yang kelam dan tidak berakhir bahagia. Seperti ingin menyampaikan kepada pembacanya, bahwa jika memiliki obsesi yang berlebih pada sesuatu itu akan membahayakan diri sendiri ke depannya.

Di ceritakan dari sudut pandang (orang ketiga) dari tiap tokoh-tokohnya, hanya saja lebih difokuskan kepada Atha. Kehidupan dan perasaan yang di alami oleh Atha sangat miris, membuat saya gregetan dan keki sendiri dengan kelakuan keluarganya terutama. Apalagi sang mama juga kakaknya, Ares. Yang paling membuat saya miris adalah kejadian di saat mamanya memasak makanan kesukaan Ares dan Alia dalam rangka untuk merayakan keberhasilan mereka di bidang klub di sekolah, saat itu Atha menginterupsi kalau ia pun telah berhasil lolos seleksi. Kalau saja tidak di katakan sendiri oleh Atha, mungkin keberhasilannya itu akan tersimpan rapi dan keluarganya tidak akan mengetahuinya sama sekali. Sedih bangett pas adegan ini, saya rasanya pengin meluk Atha saat itu juga. Dan masih ada beberapa adegan miris lainnya yang di alami oleh Atha, namun yang paling mengena di hati saya adalah adegan perayaan ini.
Saya sangat berharap sekali kalau diluar sana tidak 'akan pernah' ada kejadian yang serupa seperti yang dialami oleh Atha.

Untuk karakternya, saya sangat suka dengan sosok Atha. Terobsesi dengan warna merah. Membuat Atha tanpa sadar sudah melakukan hal-hal yang bahkan tidak disadari oleh dirinya sendiri. Awalnya saya sempat bingung, kenapa keluarga dan temannya terutama Ameera malah menuduhnya, seperti saat Alia jatuh dari tangga dan Temannya yang juga akan melakukan seleksi ulang tim cheerleader. Awalnya saya mengira Atha mempunyai sosok alter ego yang membuatnya tidak sadar akan kejadian yang menimpanya atau sesuatu yang menyangkut dengan kejiwaannya, namun ternyata teman-teman tebakan saya salah 'besar'. Penulis sangat berhasil menyimpan rapat apa yang terjadi pada Atha dan membuat saya terkagum-kagum dengan kisah di novel ini.

Untuk karakter favorit lainnya adalah tentu saja Kegan. Sosok Kegan sangat menghibur hati saya. Di luar adegan-adengan miris yang dialami oleh Atha, ada Kegan yang berusaha menutupi dan mengalihkan kesedihan Atha. Kegan mempunyai caranya sendiri untuk ada di samping Atha. Walaupun Atha tidak pernah melihat Kegan, tapi Kegan dengan kesabaran dan niat tulusnya tetap mau berteman dengan Atha.

Konfliknya tidak bisa dikatakan hanya satu konflik saja sih, ntahlah. Karena di saat konflik pertama muncul, tiba-tiba muncul lagi masalah lain yang saling berkaitan. benar-benar dibuat gregetan banget dengan kisah Atha ini. Dari awal membacanya saya sudah mulai menebak-nebak akan seperti apa kisahnya. Untuk twist-nya pun diluar dugaan saya teman-teman. Penulis memang sangat pandai mengaduk-ngaduk isi kepala saya. Untuk penyelesaian konfliknya saja, timbul tanya tanya di kepala saya. Adakah teman-teman yang bisa menebak apa yang sebenarnya terjadi pada Atha, di saat kalian sedang membaca buku ini? Khususnya bagi yang sudah membaca. 

Endingnya? Jujur saya sangat terkesan. Bukan ingin memuji-muji, tapi memang seperti itulah yang terjadi pada saya. Sempat bingung sih awalnya, lah ini si ini kok bisa sama si Alana? Bukannya si alana sama si itu. Seperti itulah yang terlintas di benak saya.

"Bahwa ia tak akan berubah dengan sendirinya hanya dengan menunggu. Ia akan sembuh dengan melakukan usaha yang keras." (hlm. 219)

Melalui buku bacaan Take Off My Red Shoes ini banyak pesan-pesan moral yang di sampaikan, di antaranya; belajar untuk memaafkan diri sendiri atas apa yang sudah terjadi, dan mencoba memaafkan mereka yang bahkan tak pernah menganggap kehadiran kita. Jika kita ingin berubah atau ingin melakukan sesuatu, jangan hanya menunggu keajaiban yang datang menghampiri kita, tapi jemputlah keajaiban itu untuk perubahan dalam diri kita seperti apa yang kita inginkan.

Overall, bagi kamu yang menyukai kisah yang menyerupai dongeng si Sepatu merah, dan keluarga yang lumayan dark sangat merekomendasikan novel ini untuk kamu baca.

R A T I N G


"Tidak ada orang biasa di dunia ini yang bisa berbuat adil sepenuhnya. Hati mereka pasti akan memihak pada salah satu, itu adalah sebuah kepastian. Yang adalah, mereka yang berusaha untuk berbuat adil." (hlm. 227)

Related Posts

Post a Comment