Jangan Nikah Dulu, Kalau Cuma Mau Enak - Hanny Dewanti

Post a comment

Jangan nikah dulu - Hanny Dewanti

Judulnya kok gitu amat sih? Ada nama mba Hanny Dewanti-nya pula, hehehe. Jadi teman-teman hari ini aku akan sedikit berbagi apa yang aku dapat dari membaca buku dari penulis satu ini.

Jangan nikah dulu. Itu memang judul bukunya kok. Ngerasa aneh atau malah jadi penasaran? Sama. Buku ini pun aku dapat dari menang giveaway di akunnya mba Kinanti. Dan Alhamdulillah akhirnya aku jadi punya bukunya mba Hanny dua. 

Setelah sebelumnya aku juga mereview bukunya mba Hanny yang berjudul hijrah sakinah, dibukunya yang kedua ini juga aku dibuat merasa tersentil dan tersindir. Karena mba Hanny tidak hanya sekadar menulis tentang pendapatnya tapi juga dari pengalaman beliau dan orang-orang disekitarannya.

Buku ini seperti kita sedang mendengar seorang sahabat memberi nasihat dengan cara yang unik. Kenapa aku bilang unik? Sebenarnya aku pas bacanya merasa kesindir, tapi di satu sisi aku malah ketagihan bacanya, karena penasaran tentang apa saja yang akan dibahas mba Hanny dibuku keduanya ini.

"Sebelum memasuki jenjang pernikahan, persiapkan dulu mental dan perbaiki niatmu."

Apa Yang Dibahas Buku Ini?

Walaupun non fiksi tidak membuat buku ini jadi jenuh dan bosan saat kita membacanya, justru sebaliknya. Bukunya malah jadi terkesan asyik. Apalagi yang dibahas tentang pernikahan. Materi yang pas banget buat aku yang belum menikah. Jadi membaca buku ini seperti mengikuti konseling khusus untuk persiapan sebelum memilih pasangan dan menetapkan tujuan menikah.

Intinya sih dan selalu ditekankan, jangan tergesa-gesa untuk memutuskan menikah. Pastikan niat dan tujuannya dulu, sudah pas dan benar baru lanjutkan.

Walaupun lingkungan sekitar semakin mencekam karena beragam pertanyaan "horor" kapan nikah?, kapan menyusul?, sudah ada calon belum?, dan bla-bla-bla dengan banyak pertanyaan lainnya yang sering menghantui dari orang-orang sekitar bahkan keluarga sendiri.

Melalui buku ini, kita seperti diberi arahan untuk bagaimana cara menghadapi berbagai pertanyaan "horor" itu. Malah kalau ada pertanyaan yang serupa, sebaiknya kita jangan takut, karena pertanyaan-pertanyaan itu akan terus bergentayangan selama kita hidup, wkwkw.

Bahkan setelah menikah pun akan muncul pertanyaan, "kapan punya anak?". Setelah punya anak, "kapan nambah momongan lagi?", yang tidak akan pernah ditanya adalah pertanyaan "kapan mati". Nah pertanyaan ini kurasa akan muncul dari diri manusianya masing-masing.

Dan kalian harus hati-hati, dibuku selalu ditekankan bahwa menikah itu nggak enak. Lohh? Penasaran, baca dong.

Baca juga - Cara review buku menggunakan metode 5 jari

Nikah itu....

Sebenarnya nikah itu asyik-asyik saja kan? Coba deh tanya sama mereka yang sudah menikah. Aku ini padahal belum menikah, tapi sok-sokan mau ngebahas tentang pernikahan *duhh. Semoga aku tidak dikritik dan viral gara-gara ini ya, wkwkwkwk.

Nikah itu asyik dan enak kalau mendapat jodoh yang sesuai dan cocok sama kita, yang punya visi dan misi yang sama. Setuju kan?

Kutipan buku jangan nikah dulu

Yakin, mau nikah?

Saat pertanyaan yang sama ditanyakan ke kerumunan yang ramai, pasti jawaban serentak akan terdengar, "MAUUUUUU....".  Termasuk aku, dan kamu yang belum menikah dong pastinya. Kalau sudah menikah ngapain lagi dijawab, wong sudah menikah juga, hehehe

Dibuku ini, pertanyaan demi pertanyaan muncul dan secara tidak sadar kita pun akan bertanya ke diri sendiri (khusus yang belum nikah ya ini). Apakah kita sudah siap untuk menikah? Bagaimana kehidupan pernikahan yang kita impikan tidak sesuai ekspektasi? Sudah siapkah hidup sesederhana mungkin, karena akan ada tanggung lain yang kita nggak hanya memikirkan diri sendiri tapi kelaurga baru kita? Dan masih ada pertanyaan-pertanyaan lainnya yang serupa bahkan ada yang lebih menancap banget di kepala.

Jangan takut sama pertanyaan-pertanyaan tersebut. Justru dari pertanyaan tersebut penulis ingin memberikan gambaran dan kesiapan diri sebelum memutuskan untuk menikah supaya jangan tergesa-gesa.

Bukannya penulis nggak setuju sama menikah muda, justru penulisnya sendiri menikah saat masih kuliah. Nah loh. 

"Nikah itu nggak enak jika kamu nggak siap dengan segala sesuatunya. Nikah itu nggak enak jika niatmu salah. Nikah itu nggak enak kalau kamu memilih calon pasangan dengan serampangan. Nikah akan menjadi enak ketika kamu memiliki bekal untuk menghadapi semua tantangan setelah pernikahan. Nikah akan menjadi sangat luar biasa saat kamu dan pasangan memiliki visi misi yang sama dalam menjalani biduk rumah tangga." - hal. 20

Kok kedengerannya semakin serius? Nggak kok, ini masih santai loh. Buku ini benar-benar seperti kita sedang mendengar nasihat pernikahan, atau lebih tepatnya persiapan apa saja yang harus sebenarnya dipersiapkan oleh kedua belah pihak. Bukan hanya sekadar ijab-kabul, lalu sah, bukan.

Apa yang aku rasakan Setelah Membaca Buku Ini?

Secercah harapan dan harapan. Bahwa memang benar jodoh itu ada ditangan Tuhan. Jodoh tidak akan tertukar, itu sudah pasti adanya. Jadi intinya jangan takut dan merasa sediri dan kesepian kalau melihat orang-orang disekitar kita pada sudah menikah semua. 

Saat memulai bacaan pertama pun, aku nggak merasa digurui, karena memang penulis menggunakan bahasa yang santai sehingga membuat pembaca jadi lebih nyaman dan nggak merasa digurui dan disindir karena belum menikah.

Bahkan buku ini nggak hanya membahas tentang kejadian-kejadian yang kerap di alami oleh mereka-mereka yang belum menikah tapi juga yang sudah menikah juga ada. Jadinya buku ini paket lengkap sekali.

Apa Yang Aku Suka Dari Buku Hanny Dewanti ini?

Banyak. Dari segi tulisannya, oke. Layout bukunya pun penuh warna jadi kerasa happy bacanya, karena selain pembahasannya yang sebenarnya "berat" (buat yang belum menikah) tapi disatu sisi juga mengasyikkan. Karena jadi dapat banyak ilmu tambahan juga.

Tampilan layout buku Hanny Dewanti

Buku ini disatu sisi ada rasa "sedikit" takut tapi bagian terbanyaknya menjadi tidak takut untuk menikah, karena dari buku ini justru kita harus mempersiapkan hal-hal apa saja yang harus dipersiapkan. Bukan dari segi material ya, tapi lebih kepada kesiapan diri kita secara mental untuk memasuki rahan kehidupan pernikahan.

Karena menikah bukan lagi tentang diri kita saja, tapi aku dan kamu, menjadi satu dalam satu atap yang dinamakan pernikahan.

Kenapa Wajib Baca Buku Jangan Nikah Dulu?

Karena kamu akan mendapatkan banyak sekali pemahaman-pemahaman baru tentang sebuah pernikahan yang mungkin selama ini kita anggap sepele, padahal yang sebenarnya tidak. 

Selain bukunya yang sarat nasihat dengan cara santai tidak menggurui, tampilan tiap lembaran didalamnya juga penuh warna, jadi tidak membuat kita jadi jenuh saat membacanya. 

Gimana? Sudah siap untuk menikah?

Yuk kalian jangan lupa baca bukunya mba Hanny Dewanti yang kedua ini. Dan temukan sesuatu yang baru yang selama ini belum kalian dapat dari buku-buku lainnya. Karena akan ada kejutan kejutan disetiap lembarannya yang membuat kalian sadar akan arti sebenarnya sebuah pernikahan itu sendiri.

#Happyblogging

Related Posts

Post a comment

Follow by Email